Diserang DBD Puluhan Warga Kaur Tumbang

RADAR MELAYU.COM, KAUR – Memasuki puncak musim kemarau, Kabupaten Kaur dilanda lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue. Tercatat sebanyak 31 orang warga dilaporkan ambruk akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti sejak awal tahun hingga pertengahan September 2026. Kondisi ini membuat Dinas Kesehatan setempat harus bergerak ekstra dengan menurunkan tim untuk melakukan pengasapan besar-besaran di sejumlah titik rawan guna memutus rantai penularan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kaur, H. Sapuan Ilyas, membenarkan bahwa puluhan warga tersebut telah dinyatakan positif DBD berdasarkan hasil pemeriksaan medis. Ia menyebut jumlah tersebut masih bersifat sementara karena proses pendataan untuk bulan September masih berjalan dan berpotensi terus bertambah. Meski kasusnya cukup tinggi, pihaknya memastikan belum ada korban jiwa dalam kejadian luar biasa ini. *“Dari Januari sampai September 2026 ini sudah ada sekitar 31 warga Kaur yang terjangkit DBD. Tapi Alhamdulillah belum ada yang sampai meninggal dunia,” ujar Sapuan, Kamis (17/9/2026).

Sebagai bentuk respons cepat, Dinkes Kaur langsung menyisir permukiman warga yang ditemukan kasus positif, salah satunya di Kecamatan Semidang Gumay. Petugas Puskesmas terlihat melakukan fogging di rumah warga dan fasilitas umum di sekitar lokasi kejadian. Langkah pengasapan ini difokuskan untuk membunuh nyamuk dewasa pembawa virus agar tidak semakin menyebar ke lingkungan tetangga. Menurutnya, cuaca panas yang diselingi genangan air menjadi faktor utama meledaknya populasi nyamuk. “Kondisi cuaca dan banyaknya genangan yang menjadi sarang ideal bagi jentik nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak. Untuk warga yang terjangkit DBD ini telah mendapatkan penanganan medis secara intensif,” terangnya.

Namun demikian, Sapuan menegaskan bahwa fogging saja tidak cukup menjadi solusi permanen dalam pemberantasan DBD. Sebab, asap fogging hanya mampu melumpuhkan nyamuk dewasa, sementara jentik-jentik yang bersembunyi di dalam bak mandi, ember, dan tempat penampungan air lainnya tetap hidup dan akan kembali berkembang. Oleh karena itu, ia meminta peran aktif masyarakat untuk tidak sepenuhnya bergantung pada pengasapan dari pemerintah. Warga diminta rutin menjaga kebersihan dengan gerakan 3M dan menghidupkan kembali kerja bakti bersama. “Kita selalu mengimbau masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan fogging, melainkan turut aktif menjaga kebersihan lingkungan. Warga diminta konsisten menerapkan gerakan 3M menguras, menutup, dan mengubur tempat penampungan air dan menggiatkan gotong royong di lingkungan masing-masing,” tandasnya.(jul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *