HARI SANTRI NASIONAL seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan bagi santri di seluruh Indonesia, termasuk bagi santri-santri cilik di Kabupaten Kaur. Hari penuh tawa, cerita, dan kebanggaan menampilkan bakat terbaik.
Namun, Hari Santri tahun ini tidak seindah yang dibayangkan bagi salah satu siswi Sekolah Dasar di Kabupaten Kaur.
LAPORAN REDAKSI RADAR MELAYU
Ditemui di kediaman orang tuannya Kamis 22 Oktober 2026 Felisaputri pelajar SDN 39 Kaur masih mengurung diri dalam kamar, suaranya masih terdengar lirih. Wajahnya tertunduk, malu. Bukan karena kalah lomba, melainkan karena kemenangan yang sudah di depan mata, yang sudah ia ceritakan ke teman-teman dan tetangga, tiba-tiba lenyap begitu saja.
Ia adalah salah satu peserta Lomba Dai Cilik (Pildacil) yang digelar oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kaur dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) 2026.
Awalnya, panitia menyampaikan bahwa dirinyalah yang meraih Juara Satu. Kabar itu tentu menjadi kebahagiaan luar biasa. Jerih payah menghafal materi ceramah, latihan intonasi di depan cermin, hingga menahan gugup di atas panggung, seolah terbayar lunas.
Kabar bahagia itu pun cepat menyebar. Teman sekolah tahu, guru tahu, tetangga pun ikut bangga. Namun kebahagiaan itu hanya sesaat. Beberapa waktu kemudian, panitia meralat pengumuman tersebut. Nama yang sebelumnya disebut sebagai juara satu, tiba-tiba hilang, bahkan tidak masuk dalam daftar tiga besar juara sama sekali. Alasannya: salah tulis nama di Berita Acara.
Catatan Buruk dan Luka Psikologis
Polemik salah tulis pemenang lomba Pildacil ini pun menjadi catatan buruk atas kinerja Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kaur dan seharusnya menjadi bahan evaluasi besar di masa mendatang.
Pasalnya, persoalan ini bukan lagi sekadar soal transparansi, kejujuran, atau soal benar dan salahnya penilaian juri. Ini sudah menyangkut persoalan yang jauh lebih dalam: mental seorang anak.
“Dampak psikologisnya sangat tinggi, anak bisa saja terpukul dengan kejadian ini. Dengan berubahnya pengumuman tersebut, tentu anak merasa malu dengan teman-teman sekitar dan orang lain yang sudah terlanjur tahu dia juara satu,” ujar Ersan Safiri (42) orang tuanya dengan nada kecewa.
Bagi anak seusia SD/MI, panggung lomba adalah panggung kepercayaan diri. Ketika ia sudah berdiri tegak sebagai juara, lalu tiba-tiba dijatuhkan dengan alasan kesalahan ketik panitia, yang runtuh bukan hanya namanya di daftar juara, tapi juga kepercayaan dirinya.
Di rumahnya, sang anak kini lebih banyak diam. Malu untuk keluar bermain. Malu ditanya teman-teman, “Jadi juara satu beneran enggak?”
Hari Santri yang seharusnya ia kenang dengan piala di tangan dan cerita bahagia, kini ia kenang dengan air mata dan rasa malu.
Kini, orang tua siswi tersebut hanya berharap, kejadian yang menimpa anaknya menjadi pelajaran terakhir. Agar ke depan, tidak ada lagi anak lain yang harus menangis di hari yang seharusnya membahagiakan.
Jangan sampai, karena keteledoran administrasi panitia, semangat seorang dai cilik padam sebelum sempat berdakwah. Lalu bagaimana dengan calon calin da’i cilik lain masih adakah keperyaan dengan berbagai perlobaan dam kegiatan yang melibatkan ornag banyak?
Seperti diketahui, polemik bermula saat Berita Acara awal menulis Juara 1 Pildacil Putri MI/SD dengan nilai 98 atas nama Felisaputri SDN 39 Kaur. Padahal berdasarkan data final yang dirilis adalah milik Najmi Sakibah SDN 86 Kaur dan terjadi kesalahan ketik nama di rekap nilai.
Kejadian tersebut membuat salah satu peserta cilik yang sempat diumumkan juara 1 menjadi terpukul dan orang tuanya merasa kecewa.(**)





